Home » » KISAH PULAU DEDAP ( NILAI-NILAI KEPATUHAN TERHADAP ORANG TUA )

KISAH PULAU DEDAP ( NILAI-NILAI KEPATUHAN TERHADAP ORANG TUA )

Written By Irwan to on Kamis, 10 November 2011 | 19.23

Asslamuallaikum wr... wb... disini saya akan menyampaikan lagi tentang Kisah Pulau Dedap, yang kemaren sudah saya singgung juga yakni tentang Dedap Durhaka. berikut lanjutannya tentang kisah pulau dedap durhaka. Di dalam kebudayaan kita tersimpan pesan kekayaan moral yang mengandung tunjuk ajar dalam kehidupan masyarakat. Kekayaan itu terpelihara dengan baik di tengah  masyarakat kita karena memang kita memiliki sistem dan mekanisme pewarisan nilai-nilai kebudayaan yang hidup dan berkembang melintasi batas-batas abad dan generasi, bak kata pepatah “ tak luput oleh hujan dan tak lekang oleh panas”.
Begitu banyak legenda tentang anak durhaka yang tersebar di santero Nusantara, yang mana dengan kekuatan sumpah dan kutukan seorang ibu berubah seketika menjadi kenyataan. Jika di Sumatera Barat kita kenal anak durhaka yang bernama Malin karena kebiadabannya disumpah menjadi batu, demikian pula di daerah Mandailing Natal Sumatera Utara seorang anak gagah nan ganteng bernama Sampuraga karena kedurhakaannya  berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas.

Tak hanya itu, di sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, seorang anak bernama Andung Kuswara yang dulunya berjiwa ksatria namun karena keangkuhannya dengan sang bunda dikutuk menjadi batu berbentuk bangkai manusia. Demikian pula halnya dengan Riau yang memiliki  sumber daya alamnya yang berlimpah ruah ternyata memiliki arsip rapi yang perlu dipublikasikan dalam era konseptual saat ini.
Sejenak kita buka lembaran demi lembaran sosio kultural historis masyarakat  yang diabadikan di daerah Bengkalis  dikemas dalam bentuk legenda yakni Dedap Durhaka. “Tanggang” itulah nama asli Dedap sebelum pergi merantau ke Negeri Seberang. Tersebut kisah di Selat Bengkalis, sebuah Desa terpencil di tengah warga masyarakat yang kala itu masih relatif sedikit, terdapat satu keluarga yang ekonominya tergolong lemah, orang tuanya hanya mencari kayu bakar untuk menghidupi keluarganya.
Di saat Tanggang beranjak remaja pemikiran dan perasaannya mulai berkembang, acapkali ia termenung dan terlintas keinginanya untuk merubah nasib keluarganya dengan cara merantau ke Negeri Seberang. Keinginan Tanggang  tersebut  semula dilarang oleh ibunya sebab ia khawatir dan  takut kehilangan anak semata wayangnya. Belakangan keinginannya kian membuncah seakan tak dapat dicegah lagi, hingga pada akhirnya dengan keiklasan sang ibu diberkahilah anaknya untuk merantau.
Kepergian Dedap ternyata membuahkan hasil yang gemilang dan terbilang di Negeri perantauan. Iapun  cukup berhasil dan kaya raya di Negari seberang, sehingga  dengan  kekayaannya  namanya  termasyhur di mana-mana, masyarakatpun menyanjung dan mengelu-elukan akan keberhasilan si Dedap (Tanggang) ini. Di perantauan masyarakat di Negei Seberang lebih populer memanggil dan menyebut nama Dedap (bukan Tanggang).
Pada suatu hari Dedap melakukan pesiar keliling pulau dan tibalah di sebuah pulau yang mana pulau tersebut adalah tempat kelahirannya, kampung tersebut bernama Tanjung Padang. Orang tuanya sumringah dan bergegas menemui si Tanggang (Dedap) kala mendengar anak kesayangannya  pulang. Namun kepulangan Dedap tidak sepenuhnya menjenguk dan salam sembah kepada orang tuanya, akan tetapi ia memiliki maksud dan lain tujuan yakni ingin memamerkan kekayaan yang diperolehnya dan balas dendam kepada teman-teman sebayanya, di karenakan mereka dulu selalu menghina dan mencaci Tanggang (Dedap) atas a kemiskinannya. Demikian deskriptif dari Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis (2007).
Ketika ibunya hendak menemui si Tanggang (Dedap) anaknya secara langsung, namun tatkala Dedap  melihat keadaan ibunya yang tua renta sepontan ia merasa malu dan terhina jika memiliki orang tua seperti ibunya saat itu. Tanpa pertimbangan Dedap pun  memerintahkan anak buahnya untuk memukuli ibunya. Akibat pukulan yang begitu keras sang ibu pun mengerang kesakitan seiring air matanya berlinang kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang mengandung sumpah berbunyi : “kalau benar kau BUKAN anakku maka selamatlah kau, tapi jika BENAR kau anakku maka musibahlah yang menimpamu”. baru saja ibunya selesai berdoa tiba-tiba angin puting beliung yang begitu kencang disertai sambaran kilat dan petir yang hingar-bingar menghantam tongkang (kapal) Dedap. Seiring tenggelamnya kapal tersebut, tenggelam pula 12 awak lainnya termasuk ayah dan ibunya.
Setelah beberapa tahun  kemudian efek dari peristiwa tersebut muncullah gumpalan tanah yang menjorok ke permukaan air yang kian membesar dan luas sehingga membentuk sebuah pulau yang belakangan dikenal bagi masyarakat Bengkalis dengan sebutan Pulau Dedap.
Berselang tahun kemudian tumbuhlah dua pohon mempelam yang berbeda rasa, yang satu rasa manis dan yang satu lagi rasanya asam. Konon kabarnya mempelam manis adalah simbol sang ayah yang memaafkan kelancangan si Dedap. Sedangkan mempelam asam adalah simbol sang ibu yang enggan memaafkan anaknya, terbukti sumpahnya berlaku. 
Demikian pula berdasarkan deskriptif historis di Pulau tersebut tumbuh sepohon mempelam yang bercabang dua dengan arah yang berbeda. Cabang pertama mengarah ke laut (perairan Pulau Padang), sedangkan cabang yang kedua mengarah ke daratan Pulau Padang. Sebagaimana yang diungkapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis, pohon tersebut laksana manusia mengacungkan kedua tangannya ke atas dengan arah yang berbeda.
PROYEKSI NILAI LELUHUR DI BALIK PERISTIWA
LEGENDA PULAU DEDAP


Sebuah cerita yang membuahkan makna begitu berharga bagi setiap anak yang terlahir dari rahim ibundanya, menurut pakar pendidikan bahwa cerita tersebut dapat membangkitkan keteladanan dalam membentuk kepibradian seorang anak. Oleh karena itu tak salah jika orang tetua dulu sebelum menidurkan anak ucunya selalu diawali dengan berkisah atau mendongeng terlebih dahulu.
 Kak Seto juga mengilustrasikan bahwa cerita legenda sarat akan hikmah dan pesan-pesan moral yang dapat dijadikan mau’izoh (pelajaran) dan why of life (pedoman hidup, tunjuk ajar) bagi generasi ke generasi berikutnya. Lihat : Kak Seto dalam Evie Manai (2001). Inilah harapan orang tua agar memiliki keturunan yang berbakti, santun, hormat, berbudi pekerti terhadap kedua orang tuanya dari cerminan legenda Pulau Dedap tersebut.
Bahkan lebih konkrit Sitta A Muslimah (harian kompas:2008) dalam catatannya di media cetak menyimpulkan, bahwa ternyata mendongeng merupakan upaya preventif dalam membentuk character building terhadap anak.
Bagi orang Melayu terutama para orang tua sebagaimana yang dituturkan Rustam S. Abrus (1999:56), berharap agar anaknya menjadi “anak bertuah” yang dapat membawa kebahagiaan, kelapangan, kerukunan dan kesejahteraan baik bagi keluarga maupun bagi agama, bangsa dan negara. Sebab pepatah orang tua-tua Melayu mengatakan’ “kalau kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri,” ungkapan lain yang tak kalah sarat makna berbunyi “tuahnya selilit kepala, mujurnya selilit pinggang, ke tengah menjadi manusia, ke tepi menjadi orang.”
Tutur bertuah di atas memaknai akan seorang anak yang telah menjadi “orang” disebut juga menjadi “anak bertuah”, karena mereka dapat melahirkan kebahagiaan, kebanggaan, dan keberuntungan bagi keluarga, mayarakat, bangsa dan negaranya. Terkait Pulau Dedap dalam legenda di atas sebagai simbol anak durhaka, sesat dan jahat selain mencoreng muka orang tuanya juga akan menjadi aib bagi kerabat dan merusak nama baik keluarga dan kampungnya.
Dalam perspektif sosiologi terkadang kedurhakaan seorang anak bersumber dari kesalahan orang tuanya yang gagal mendidik, mengajar dan menyelamatkan anaknya dari hal-hal yang bersifat negatif kepada hal yang   positif. Sebaliknya kedurhakaan itu datang dari anak itu sendiri, meskipun orang tuanya bersusah payah mendidik, mengajar, dan mengarahkannya, namun si anak tetap saja membangkang dan menolak seiring apa kemauannya sendiri.
 Inilah cuplikan tempramental yang tedapat  pada legnda Pulau Dedap tersebut, bahwa kemasyhuran yang diraih dengan bergelimang harta dan tahta mengalahkan kesantunan, kerendahan hati dan penghormatan terhadap orang lain terutama kepada kedua orang tua. Terlebih sikap Dedap yang amat tak terpuji karena ia malu mengakui ibunya yang telah berjasa melahirkan, membesarkan dan memperhatikannya dikarenakan ibunya tua renta dan miskin papa.
 Oleh karena legenda tersebut mengandung education values (nilai-nilai pendidikan) dalam kehidupan bermasyarakat, bertetangga, dan berkeluarga, maka muncullah klise yang dituturkan para seniman dan budayawan melalui lirik lagu yang dilantunkan oleh Osman dan Rini dalam syairnya berikut ini:
“Tersebut kisah di Selat Bengkalis, dekat Bandul Tanjung Sekodi
tersebut kisah Dedap Durhaka, anak yang tidak membalas guna
Pais Dedak Panggang Keluang, Bekal si Dedap pergi merantau
Setelah kaya lupakan diri, Bunda Kandungnya tak diakuinya
Dedap Durhaka Budak Celaka, tak tau diri apa jadinya
Bagaikan Kacang lupakan Kulit, setelah kering ditimpa panas
Lahirlah Sumpah Bunda Kandungnya, turunlah Angin Puting Beliung
Lancang si Dedap menjadi Pulau, tumbuhlah Mempelam Manis dan Masam”.

Dalam karya lain terungkap dalam untaian kata-kata sastra yang tidak lain sebagai tunjuk ajar dalam rumpun keluarga, masyarakat beradat atas urgennya nilai-nilai pendidikan itu sebagaimana yang diillustrasikan oleh budayawan Riau yang mumpuni di bidangnya yakni Dr. (HC) H. Tennas Effendi dengan piawainya merangkai kata-kata bertuah berikut ini:

“Anak dididik pada yang baik, diajar pada yang benar
Dibela pada yang mulia, dituntun pada yang  santun
Ditunjuk  pada yang elok, dipelihara pada yang sempurna
Dijaga pada yang berguna, anak dididik dengan kasih,
Kasih jangan berlebih-lebihan, kasih berlebih membutakan
Anak dididik dengan keras, tetapi jangan terlalu keras,
 terlalu keras menjadi naas”

Di era konseptual sekarang ini batas penghormatan dan kepatuhan sudah mulai memudar. Hardikan anak, bentakan dan sanggahan anak terhadap orang tua seakan menjadi tradisi yang lepas kendali baik moral, adat, hukum dan agama, laksana irama kedurhakaan yang membosankan, Inilah PR kita untuk menyelamatkan Negeri agar tetap santun, terhormat dan bermartabat dimanapun kita berada, juga dalam kondisi apapun yang dijumpa.
Sedangkan dalam prespektif cultural approach (pendekatan budaya) menurut Fadillah Om (2007:44) menyimpulkan bahwa mendongeng atau story telling ternyata dapat dijadikan sebagai media membentuk kepribadian karakter dan moralitas anak usia dini. Sebab dari kegiatan mendongeng tersebut mengandung  manfaat yang bersentuhan secara langsung (persuasif) kepada siapapun yang membaca dan mendengarnya demikian pula terhadap yang mengutarakannya, sehinggga terjalinnya kultur interaksi komunikasi yang harmonis dalam rumah tangga.
Hal tersebut menjadi modal penting untuk menciptakan komunikasi dalam komponen keluarga sehingga melahirkan suasana akrab, bersahaja, damai sekaligus mengarahkan anak kepada pola pikir yang konstruktif  bukan deskruktif. Inilah didikan yang harus dirawat agar senantiasa terjaga dan terpelihara dari bias-bias dekadensi moral  ketika anak beranjak remaja dan dewasa, demikian ungkapan Elmustian Rahman (2001:447).
Jadi titik terpenting dalam membentuk moral sang anak adalah lingkungan sekitar rumah, setelah itu lingkungan sekolah dan terakhir adalah lingkungan masyarakat sekitar. Analisis ini pada hakikatnya sudah ada 15 abad yang silam sebgaiamana terukir  dalam al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:

yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Sangatlah wajar jika kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik dasar–dasar moral pada anak. Namun, ketika di lingkungan rumahnya sudah tidak nyaman, biasanya anak-anak akan memberontak di luar rumah (kalau tidak di sekolah, pasti di lingkungan masyarakat). Oleh karenanya agar tidak terjadi hal demikian, maka sudah sewajarnya orang tua membina interaksi komunikasi yang baik dengan sang buah hati supaya di masa mendatang anak tetap meminta jalan keluar kepada orang tuanya bukan kebayakan orang saat ini malah mengadu kepada tetangga dan teman sebaya.
C. Tradisi Story Telling Yang Bermakna
Tradisi Story Telling (Mendongeng) merupakan upaya preventif agar tidak terjadi pembangkangan dari sang buah hati terhadap tatanan moral yang berlaku adalah dengan mengtradisikan  kembali dongeng sebelum tidur. Tentu saja, kisah yang didongengkan itu harus berisi hikmah hidup yang berbasis  akhlaqul karimah dan nilai moral yang visioner dan positif bagi perkembangan hidupnya di masa depan. Salah satu khazanah dari Bengkalis adalah Legenda Dedap Durhaka karena  merupakan cerminan bagi anak yang melakukan kedurhakaan terhadap orang tuanya, bukankah pepatah asing juga mengungkapkan: experience is the best teacher (pengalaman adalah guru yang paling bijaksana).
Pesan leluhur di atas jika dilanggar, maka peristiwa yang terjadi pada masa silam itu akan terulang kembali di era modern saat ini. Meskipun tidak dalam bentuk kutukan seperti Pulau melainkan dalam bentuk lain,  berupa musibah kecelakaan, kebakaran, kehilangan dan lain sebagainya. Itulah keramat seorang ibu yang berjasa melahirkan kita bercucur peluh tak pernah mengeluh, ternyata memiliki kemuliaan yang teramat agung.
 Karena memang kemuliaan orang tua terletak kepada kemuliaan Allah dan murkanya Allah terletak jua dari murka bundanya.  Hal yang senada kanjeng Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam bersabda:


Artinya: “Ridha Allah terletak kepada Ridha orang tua, dan murkanya Allah terletak kepada murkanya orang tua” (HR. Bukhari dan Muslim).
Aktivitas story telling (mendongeng) merupakan tradisi yang dilakukan para orang tetua kita dulu sekian abad yang silam. Ini dibuktikan dengan adanya legenda, misalnya Dedap Durhaka dan masih banyak lagi. Bukti tersebut mengindikasikan bahwa telah sejak dahulu kala, nenek moyang kita melakukan kegiatan mendongeng kepada anak-cucunya agar tertanam nilai moral sejak usia dini. Biasanya dongeng yang lebih berpengaruh kepada anak-anak adalah kisah-kisah keteladanan yang ada relevansinya dengan dunia anak yang imajinatif.
Merrill Hermin dalam bukunya berjudul How to Plan a Program for Moral Education (1990) berpendapat bahwa bercerita atau mendongeng memungkinkan orang berbicara tanpa memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Sebab setiap pendengar memiliki kebebasan untuk setuju atau tidak setuju dan akan berusaha menempatkan posisinya di mana ia mau dalam setiap cerita.
Selain itu, cerita atau dongeng bisa menjadi wahana untuk mengasah imajinasi dan alat pembuka bagi cakrawala pemahaman seorang anak. Ia akan belajar pada pengalaman-pengalaman atas kejadian yang terjadi, setelah itu memilah mana yang dapat dijadikan panutan olehnya sehingga membentuknya menjadi moralitas yang dipegang sampai dewasa.
Dengan demikian peran pendongeng atau orang tua dalam mendeskriptifkan sebuah cerita kepada anak-anak mestinya menjadi seorang penjelas yang piawai. Sehingga seorang anak akan mampu memahami intisari dari kisah tersebut dan diharapkan ke depan mengaplikasikannya dalam kehidupan realistis. Agar tidak terjadi penanaman bibit moral yang paradoksal, maka orang tua selayaknya memberikan penafsiran secara rasional, konstruktif, dan tidak terjebak pada pengisahan yang klenik.
Seperti legenda ini menginspirasikan dan menyelipkan pesan bijak kepada anak, bahwasannya orang tua harus menjadi panutan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab perintah birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebuah anjuran dalam Islam. Seiring Allah Pencipta Jagat Raya memerintahkan kepada seluruh umat manusia agar bertauhid kepadaNya dan berbakti kepada kedua orang tua, ungkapan ini terukir dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36 yang berbunyi :
 yang Artinya: ”dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu apapaun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua...”
    Perintah berbakti kepada orang tua adalah perintah yang langsung datang dari Allah, maka barang siapa yang melaksnakan perintah tersebut maka ia taat atas anjuran yang Allah berikan, namun sebaliknya siapa yang membangkang dan menimbulkan kemarahan kedua orang tuanya, maka ia sama dengan mengundang angkara dan kemarahan Allah sebagai pencipta.
    Oleh karenanya kita dituntut agar berhati-hati di saat kita diuji dengan kekayaan dan diuji dalam bentuk kemiskinan terutama terhadap kedua orang tua agar senantiasa amarah dan emosi tetap terkendali sehingga tidak melukai perasaan orang lain terlebih kepada kedua orang tua yang doanya mustajab sumpahnya mujarab.
D.    Menumbuhkan Rasa Cinta Terhadap Orang Tua   
Dewasa ini kedurhakaan anak terhadap orang tua tidak dalam bentuk fisik, mendorong dan memukulinya seperti yang dilakukan Dedap kepada orang tuanya, tapi lebih dari itu anak lebih sasarannya kepada mental orang tuanya. Seperti orang tua hanya lulusan SD sementara anak lulusan perguruan tinggi, sehingga tidak jarang kita mendengar perkataan ”Ibu tau apa tentang saya, ibu tamatan SD sementara saya sudah sarjana S1” nauzubillah summa nauzubillahi min zalik.
Sementara al-Qur’an yang agung begitu keras memberikan peringatan kepada anak, sampai-sampai mengucapkan ah saja sudah dilarang apalagi lebih dari itu. Firman Allah berbunyi:

yang Artinya: “dan Tuhanmu telah memrintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkalah perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berbuat telah mendidik aku waktu kecil.”(QS. Israa :23-24)
    Tindakan yang dianggap trend adalah seorang anak dengan sengaja menitipkan orang tuanya ke panti jompo dianggap aib dan malu kalau dipelihara di rumahnya. Sungguh perbuatan keji yang tidak manusiawi dilakukan anak meskipun dititipkan ke institusi resmi di Republik ini. 
Dengan demikian, salah satu cara menumbuhkan kecintaan anak terhadap orang tua di zaman yang kian populer ini adalah dengan cara berkomunikasi dua arah, antara anak dan orang tuanya, orang tua saling mengerti kebutuhan anak, begitu sebaiknya anak wajib mengerti dan mengetahui apa yang diinginkan orang tua.
Salah satu bentuk menumbuhkan kepatuhan anak terhadap orang tua adalah pendidikan yang dilakukan oleh Lukman  diabadikan dalam al-Qu’an. Pokok-pokok pikiran pendidikan Luqmanul Hakim tertuang pada pesan beliau kepada anaknya, yang meliputi pesan yang berkenaan antara hubungan hamba dengan Robnya, antara hamba dengan sesama.   Berikut ini adalah pesan-pesan pendidikan Luqman kepada anaknya:
1.    Tidak mempersekutukan Allah
Pesan ini beliau katakan seperti dalam firman Allah : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “Hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang benar.”.(Luqman:13).
Tanggung jawab pendidikan terhadap anak didiknya dalam Islam meliputi tanggung jawab untuk menyelamatkan hidupnya kelak di akhirat. Karena itulah pendidikan tauhid menempati kedudukan yang utama. Dengan prinsip tauhid inilah sang anak akan bisa beramal hanya untuk Allah, tanpa dicampuri dengan tujuan yang lain. Orang yang memiliki jiwa tauhid kuat, ia tidak akan mudah diiming-imingi
untuk melakukan penyimpangan hanya edngan sejumlah harta dunia. Dia tahu bahwa Allah lebih kaya dari orang yang ada di dunia ini. Dia tahu melakukan kecurangan akan menimbulkan murka Allah, sehingga ia pun akan berpantang untuk melakukan kecurangan. Apalagi jika kecurangan itu sampai mendhalimi orang lain.
2.    Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua
Luqmanul Hakim mengajarkan kepada anak untuk berbuat baik kepada orang tua sejak sedini mungkin, karena orang tua menyebabkan kita terlahir di dunia ini.
Pesan ini Allah abadikan dalam firman-Nya :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. (Luqman : 14)
Tetapi jika kita melihat kehidupan medern sekarang, banyak anak yang tidak mengerti sopan dan santun kepada orang tuanya, bahkan tidak sedikit yang mendurhakainya. Berani kepadanya dan melawan keduanya. Bahkan tidak sedikit anak yang memperbudak orang tuanya. Mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah berjasa adalah suatu sikap siopan. Dan sikap ini disepakati oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Apalagi kepada orang tua, yang oleh Allah telah dijadikan wasilah lahirnya seorang anak, lalu mengasuhnya, membesarkannya dengan kasih saying. Tetapi jika tidak dididik untuk bisa hormat kepada orang tua, anak ini tidak akan bias berbuat baik kepada orang tuanya. Sebab itulah pendidikan harus menekankan kewajiban ini bagi anak.
3.    Menanamkan Cinta Pada Amal Shalih Pada  Anak Usia Dini
Menanamkan kebiasaan beramal shalih pada diri anak harus dilakukan sejak   dini. Harus ditanamkan bahwa amal baik, sebesar apapun pasti akan dibalas oleh Allah, dan sebaliknya amal keburukan sebesar apapun pasti akan dibalas oleh Allah. Firman Allah;
“(Luqman berkata) : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”.(Luqman:16).
Ketika anak mengerti bahwa Allah akan membalas semua jerih payahnya, maka ia akan selalu berusaha untuk beramal yang baik. Ia akan senantiasa meningkatkan amalnya dan selalu taat kepada perintah-Nya serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.

4.    Mengenalkan Kepada Anak Untuk Menunaikan Kewajiban Kepada Allah.
“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan besabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Luqman : 17)

Kewajiban kepada Allah sangat banyak, ada yang berupa sikap, dan ada yang berupa perbuatan. Sholat, puasa, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, sabar, tawakkal dan lain-lain adalah beberapa contoh kewajiban kepada Allah. Luqman hanya menyebutkan beberapa kewajiban sebagaimana difirmankan oleh Allah.
Ketika anak mengerti dan faham akan kewajiban yang harus ia tunaikan, maka dengan sendirinya ia akan melakukan amalan tersebut dengan baik dan dengan lapang hati.

5.    Mengajarkan Sikap Tawadlu’.

Akhlak adalah penghias diri seseorang. Bahkan Rasulullah diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan akhlak inilah seseorang akan dihormati dan dihargai, semerntara ia akan dihina dan dilecehkan kerena kesombongan dan akhlaknya yang tercela. Luqmanul Hakim kepada anaknya memesankan agar ia tidak sombong. Sikap santun, tawadlu’ dan tidak sombong menjadi kunci penting tertanamnya akhlak yang mulis. firman Allah :
yang Artinya : “Dan jangalah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Luqman : 18-19).

Di dalam ayat-ayat tersebut, Allah mendahulukan penanaman nilai daripada pengetahuan. Dengan nilai itulah karakter anak akan muncul. Sementara tanpa pengajaran karakter, pengetahuan akan digunakan untuk memenuhi syahwatnya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain. Lalu dengan apakah kita mendidik anak-anak kita
 PENUTUP

a.    Kesimpulan
Untuk menutup makalah  ini penulis mencoba menyuguhkan kesimpulan dalam bentuk ilustrasi kejadian.  Konon dahulu di Jepang pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri ke hutan sambil menggendong ibunya. Si ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiapranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih  karena dia tidak meyanga melakukan perbuatan ini kepada ibunya. Justru si ibu tampak tegar dalam senyumnya dia berkata “ anakku, ibu sangat menyayangi,u sejak kau kecil sampai dewasa ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku, bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu, ibu takut kamu tersesat, ikutilah tanda tersebut agar engkau selamat sampai di rumah.
Setelah mndengar kata-kata tersebut si anak menangis dengan sangat keras. Kemudian langsung memeluk dan menggendong ibunya sampai pulang ke rumah, sehingga pada akhirnya si Ibu dirawat oleh sang anak sampai akhir hayatnya.
Orang tua bukanlah barang ronsokan  yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau menggapai kesuksesan atau kesedihan hanya orang tua yang mengerti kita dan bathinnya akan menderita kalau ita susah, bukan isteri, suami ataupun teman.
Orang tua kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, mulai sekarang mari kita lebih mengasihi dan menyayangi orang tua kita selagi mereka masih hidup.
b.    Saran
Musabaqah Tilawatil Qur’an tahun demi tahun sudah menampakan perkembangan yang cukup signifikan, tidak hanya dalam bidang Tilawah tapi kini sudah masuk ke ranah intelektual seperti dalam halnya bidang yang penulis geluti saat ini. M2IQ jangan hanya sebagai sarana ajang untuk ceremonial saja tapi lebih dari itu dijadikan sarana untuk mengimplementasikan nilai-nilai kepatuhan terhadap orang tua, karena orang tua adalah orang yang sangat berjasa di dunia ini. Dengan demikian ada ungkapan yang bijak yang menyebutkan terhadap ibu hendaklah hormat, semoga diri dapat selamat, dengan bapak janganlah durhaka supaya Allah tidaklah murka.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama. 2003
Ari Satria Jurnal Kompas. 2010
Amirullah Syarnini, Menulis arya Ilmiah Itu Mudah, Bandung: Fajar Media, 2001
Elmustian Rahman, Kandil Akal Di Pelantaran Budi, Pekanbaru: Yayasan Kata,   
    2000

Evie Manai, kak seto sahabat anak-anak, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001
Fadillah Om, Kebudayaan Daerah Riau 2, Jakarta: Bumi Aksara, 2007
Husni Thamrin, Sakai Kekuasaan, Pembangunan dan Marjinalisasi, Pekanbaru:
    Gagasan Press, 2003
Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis Tahun 2007
Sitta A. Muslimah Koran Kompas Tahun 2008
Tenas Effendi,Pandangan Orang Melayu Terhadap Anak, Pekanbaru: s.n 1990,
    2007
Tenas Effendi, Tunjuk Ajar Melayu,Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan
    Budaya Melayu, 2006

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. KABUPATEN BENGKALIS - All Rights Reserved